Peaceful Parenting, Stop Menjadi Orang Tua Toxic!

Bagaimana seseorang yang sebelumnya dibesarkan dalam lingkungan toxic dan penuh kekerasan bisa menjadi orang tua yang penuh cinta dan kasih kepada anak-anak mereka?

“Bagaimana cara saya gak gampang meledak-ledak ke anak?”

“Saya gak bisa mengendalikan emosi saya, walau saya tahu itu salah.”

“Saya takut memperlakukan anak saya seperti orang tua saya memperlakukan saya.”

Pertanyaan itu sering sekali dilontarkan sejumlah teman dan klien saya.

Buat para orang tua yang masih berjibaku dengan inner child, unhappy childhood serta kesulitan untuk meregulasi emosi kepada pasangan dan anak, izinkan saya berbagi tentang peaceful parenting. 

Terutama untuk kita yang merasa sebagai produk keluarga yang miskin emosi. 

How does the survivor of toxic parents transform into a loving mother & father?

Saya punya seribu alasan untuk membesarkan anak saya dengan kekerasan fisik, psikis, verbal, dan emosional. 

Simply..that is the only thing i knew, as a child who grew in it. 

Photo by Victoria Borodinova from Pexels

Ditambah lagi, pelecehan seksual yang pernah saya alami beberapa kali di masa kecil yang sangat melukai harga diri saya. 

Beranjak remaja, saya ingat pernah merundung dua orang adik kelas hanya untuk hal sepele. 

Beranjak dewasa, saya terjerumus dalam toxic relationship, serta mengalami kekerasan fisik dan psikis. 

Selama lebih dari dua puluh tahun saya hidup dalam lingkungan seperti itu. Akibatnya, saya pernah mengalami post traumatic syndrome disorder (PTSD). 

It affects a lot in the way I regulate my emotion, feeling, thoughts, and also the way I see my self worth.  

Sampai hari ini, saya masih memiliki perasaan insecure dan emosi yang tidak stabil. Namun saya masih bisa berfungsi dengan baik, bisa bekerja produktif, dapat berinteraksi dengan pasangan, anak, dan komunitas. 

Semua itu bisa dicapai karena saya melatih diri dan tentu saja, intervensi Ilahi. 

Berawal dari awareness yang meningkat, saya mengikuti konseling, hingga belajar konseling. Secara tidak langsung, hal ini menginstal mindset yang baru. 

Sulit, tapi bisa. 

One thing I learnt at counselling session, and I always remember, 

Fake it until you make it. Fake it until it becomes your second nature.” 

Orang tua yang sempat mengalami masa lalu sulit seperti yang saya rasakan, bisa menjadi ayah dan ibu yang penuh cinta dan dukungan kepada anak-anak mereka. 

Bagaimana cara memulainya?

Photo by Engin Akyurt from Pexels

1. Menyadari datangnya perasaan marah, atau insecure 

Sangat penting untuk melatih kesadaran atas emosi kita. Terutama ketika hati tiba-tiba terasa panas, jengkel karena ucapan atau tindakan seseorang. 

Apa yg bisa kita lakukan? 

Terima saja kalau sedang merasa seperti itu. Berdiam diri sejenak. Hargai perasaan yang datang tanpa merasa bersalah. Because our feelings are valid. 

2. Reaktif menjadi responsif. 

Ini fase yang kedua,dan menurut saya butuh banyak latihan. Sebab, biasanya jika ada satu isu mencuat, maka tindakan atau pikiran yang pertama hadir adalah reaksi impulsif. 

Cara ‘menggeser’ perasaan itu bisa dengan cara bertanya kepada diri sendiri. 

“Kenapa saya marah? Sedih? Emosi?

“Kira-kira respon apa yg bs saya pilih?”

 “Apa ini hanya luapan emosi saya atau benar-benar dalam rangka mendidik anak?”

It takes a while. Biasanya kita mudah terjatuh berkali-kali dalam fase ini. 

Namun, apapun langkah kecil yang kita coba dan berhasil, harus tetap dirayakan.

3. Stop playing victim. We are free to choose. 

Sebagai orang dewasa, kita punya kebebasan memilih. Kita punya andil terhadap pilihan-pilihan yang kita buat. 

Respons yang saya pilih adalah keputusan saya. Baik atau buruk, menjadi pilihan saya, bukan semata-mata diturunkan oleh orang tua.

Ketika kita mulai mengambil tanggung jawab untuk diri sendiri, di situ lah kita berhasil melakukan identity separation, atau diferensiasi kita dari orang tua. 

Sebagai anak yang dibesarkan oleh pengaruh toxic parents, ini penting

4. How to stop playing victim?

Sangat mudah untuk meminta orang tua toxic kita ‘bertanggung jawab’ atas kegagalan kita sebagai manusia dewasa yang mudah gusar, miskin emosi, sulit mengambil keputusan, dan sebagainya. 

“Dulu papa saya perlakukan saya begitu sih, makanya sekarang saya begini.” 

Tanpa bermaksud mengesampingkan kesedihan di hati, ini lah contoh kita menempatkan diri sebagai korban.  Padahal kita sudah dewasa, bisa memilih respons terbaik kita atas situasi itu. 

Kita berbeda dengan orang tua kita, dan tak apa menjadi berbeda. 

Fake it until you make it 

Fake it until it becomes your second nature. 

Karena semakin awareness kita tumbuh, maka perspektif kita akan bertambah.

5. We choose the right thing instead of our past experience, toxic belief, bad influence. 

Maksudnya begini. 

Jika dulu orang tua memukul kita saat kita tidak nurut, maka sekarang kita enggak perlu melakukan hal sama kepada anak hanya karena berpikir itu satu-satunya cara. 

Banyak cara menghadapi anak yang tidak menurut.

Kita harus bedakan mana fakta, mana experience.

Anak tidak nurut itu fakta. Kita semua tahu kekerasan itu salah. Mencuri itu perbuatan gak terpuji. Korupsi itu enggak benar. Ini fakta. 

Nah fakta ini yang kita gunakan untuk mengubah sikap reaktif dan toxic belief menjadi responsif. 

Photo by Vlada Karpovich from Pexels

6. Fake it until it becomes your second nature

Second nature berarti kebiasaan yang sengaja dibangun. 

Misalnya Anda bukan morning person. Tapi karena harus kerja atau ada meeting penting pagi hari, ya artinya Anda harus bangun pagi. 

Sama seperti itu, kita perlu melakukan tindakan nyata untuk mengganti cara kita berpikir, menilai, dan bertindak. 

Mungkin awalnya kita mudah meledak. Wajar, karena ini merupakan reaksi alamiah kita, hasil dari toxic belief. 

Konseling atau terapi akan mengintervensi hal ini dengan tindakan pro-aktif yang dilakukan terus menerus dengan sengaja. 

Misalnya, anak kita teriak-teriak dan enggak mau nurut ketika disuruh. 

Naluri alamiah : ini anak kok berani sekali sama orang tua. Kenapa kok “menyerang” saya. 

Naluri buatan : kenapa ya anak saya? Apakah dia lelah? Atau tangki emosinya kosong sehingga ia cari perhatian? Atau instruksi nya saya kurang jelas? 

Teruslah membiasakan diri membangun naluri buatan yang lebih positif. Practice make perfect. 

7. Latihan terus, lakukan hal ke 1-6 di atas berulang kali. 

8. If you failed, that is okay..keep fake it until you make it

9. Lakukan dengan sengaja.

Penting untuk melakukan ini dengan sengaja sehingga terbangun kebiasaan baru. Kelak, kita akan lebih mudah mengelola hal-hal yang meresahkan. 

10. Tanamkan kata-kata ini pada diri Anda. 

I am not my parents. 
I am not my abuser. I choose no longer to be a victim. 
I am an adult who knows what is right and wrong.  
I can't control my past, but I can control my future. 

Saya bukan orang tua saya.
Saya bukanlah pelaku kekerasan
Saya memilih untuk tidak menjadi korban dan tak berdaya
Saya adalah orang dewasa yang bisa membedakan baik atau buruk.

Betul, saya tidak bisa mengubah masa lalu. 
Tapi saya bisa mengubah masa depan.

Butuh proses dan tidak cepat. 

Sekarang Anda mungkin marah 20 kali dalam sebulan. Jika bulan depan Anda hanya marah 19 kali, maka itu sudah kemajuan, kan?

Semangat berusaha selalu 🙂 

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp